Senin, 31 Juli 2017

Pangantan Jheren (Manten Kuda)





Beragam kebudayaan yang ada di sumenep, dari sekian banyak budaya salah satunya yang ada disumenep tepatnya di desa bungin – bungin adalah budaya pangantan jheren (pengantin kuda). Dimana adat tersebut merupakan acara pertunangan, tetapi dalam pertunangan ini dilakukan oleh anak kecil yang masih duduk sekolah dasar (SD) dengan pasangannya yang masih duduk disekolah menengah pertama (SMP), mondok bahkan ada juga yang masih duduk disekolah dasar juga. bahkan mereka ada juga yang sudah ditunangkan sejak ada dalam kandungan. Mereka dijodohkan oleh kedua orang tuanya, dimana anak yang ditunangkan akan dirias layaknya manten, kemudian mereka diarak mengelilingi desa sampai kerumah pasangannya, begitupun sebaliknya.
Mereka diarak mengelilingi desa dengan diiringi musik saronen yang merupakan alat musik khas Sumenep. Musik saronen merupakan suatu perpaduan dari beberapa musik tetapi yang paling dominan adalah alat musik tiup berupa kerucut, musik inilah yang dinamakan saronen. Dengan iringan musik saronen tersebut pasangan penganten tidak hanya diarak mengelilingi kampung melaikan ada atraksi dari pengantan jheren atau atraksi dari kuda, jheren kedua pasangan tersebut kemudian disawer oleh keluarga atau orang lain yang ingin memberikan sedikit rejekinya kepada pasangan penganten jheren (manten kuda).
          Hampir semua anak – anak yang sudah ditunangkan, mereka hanya ingin merasakan naik kuda dengan dirayakan secara besar-besaran, bahkan ada juga paksaan dari orang tua karena sudah mempunyai mertua, ujar Alif yang akan melaksanakan pertunangan dengan pasangannya minggu depan.
Gadis belia yang masih duduk di sekolah dasar dia sudah ditunangkan waktu kecil,”saya tidak tau kapan saya ditunangkan, tapi saya tahu dengan tunangan saya”, ujar Natasha.

0 komentar:

Posting Komentar