Selasa, 08 Agustus 2017

MINIMNYA FASILITAS KESEHATAN DESA BUNGIN-BUNGIN


KESEHATAN
Kesehatan merupakan hal yg sangat penting bagi seluruh makhluk hidup di dunia ini terutama umat manusia. Kesehatan merupakan anugerah, rezeki, dan kebaikan Tuhan yang diberikan kepada manusia agar mereka bisa bekerja, beraktivitas dalam tujuannya sebagai pemimpin bumi. 
Ketika kesehatan masih ada makan rasannya nikmat, tidur tenang dengan lelap, bertindak ringan tanpa keraguan.
Melihat kondisi warga Desa Bungin-bungin saat ini yang rata-rata seorang yang pekerja keras tetapi mereka kurang memperhatikan kesehatan diri sendiri maupun lingkungannya, hal ini membuat warga Desa Bungin-bungin ini rawan akan terkena penyakit. Lantas bagaimana ketika rasa sakit itu tiba-tiba datang? Bagi  orang-orang yang mampu, mereka akan dengan mudah memperoleh perawatan serta pelayanan kesehatan dengan biaya mereka sendiri seperti memanggil Dokter ke rumah mereka. Tetapi bagi warga yang kurang mampu kesehatan adalah hal yang sangat mahal. Apabila mereka terkena penyakit, hal tersebut merupakan hal yang sangat menakutkan. Mereka akan sangat sulit untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit tersebut karena kurangnya Sarana Rumah Sakit di Desa Bungin-bungin, sehingga mereka harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dari Rumah Sakit dari Daerah lain.
Menurut salah satu warga Desa Bungin-bungin bahwasanya untuk warga yang kurang mampu akan sangat sulit mendapat pelayanan kesehatan secara memuaskan. Mereka harus memenuhi berbagai macam syarat yang ditentukan oleh pihak rumah sakit. Syarat-syarat tersebut menjadi alat untuk mempersulit pasien dari warga miskin untuk memperoleh pelayanan kesehatan.
Di desa Bungin-bungin terdapat POLINDES (Pondok Bersalin Desa). Polindes adalah salah satu bentuk partisipasi atau peran dari pemerintah untuk masyarakat sebagai tempat pertolongan persalinan dan pelayanan kesehatan Ibu dan anak termasuk pelayanan KB (Keluarga Berencana) yang mana tempat dan praktiknya berada di Desa.
Polindes hanya dapat dirintis di Desa yang mempunyai bidan yang tinggal di Desa tersebut. Polindes di Desa Bungin-Bungin sendiri lokasinya berdekatan dengan Balai Desa bungin-bungin tepatnya sebelah barat Bali Desa. Polindes ini pernah dikelola oleh seorang Bidan dan hanya berjalan beberapa saat saja. saat ini Polindes di Desa Bungin-bungin tidak dapat mencapai sasaran dan tujuan awalnya.
Menurut Ibu “Bendahara PKK” Polindes berhenti karena kurangnya tenaga kerja yang diperkerjakan yang biasa disebut perawat, perawat yang bekerja di Polindes sekitar 2 (dua) orang wanita, mereka merasa kewalahan jika harus menjaga 24 jam dalam sehari. Sehingga mereka resign dan Bidan yang memperkerjakan perawat tersebut tidak membuka praktek di Polindes lagi melainkan di rumahnya sendiri.

Kini Polindes di Desa Bungin-bungin hanya menjadi bangunan kosong yang tak berfungsi.

Kamis, 03 Agustus 2017

Pendidikan Sadis!!!


   Dengan demikian, masyarakat di Desa Bungin-Bungin juga belum bisa sedikit banyak mengetahui tentang bahasa nasionalnya sendiri yaitu bahasa indonesia. Lantas jadi apa negara kita jika anak didik saja atau masyrakatnya tidak bisa berbahasa indonesia, karena berbahasa indonesia yang menjadikan suatu komunikasi serta timbal balik untuk dapat mempersatukan keberagaman budaya bahasa.
    Bahkan nama presiden indonesia saja mereka tidak tahu, mau jadi apa negeri ini??. Setidaknya di ruangan lembaga pendidikan mereka terdapat gambar presiden dan wakil presiden negara, tetapi tidak dengan ruangan lembaga pendidikan di Desa Bungin-Bungin, hanya gambar presiden dan wakil presiden yang tidak diperbaharui.
    Anak-anak di Desa Bungin-Bungin mayoritas lebih tertarik untuk sekolah di Pesantren. Jika sudah lulus sekolah dasar (SD) hampir semua anak-anak di desa tersebut melanjutkan sekolah di pesantren atau salaf, karena di desa ini anak-anak sudah dikenalkan pelajaran kitab (agama) sejak usia dini. Sedangkan di sekolah madrasah ibtidaiyah (MI) ada juga anak-anak yang mondok tapi hanya beberapa saja itupun perempuan semua. Di MI tersebut kekurangan tenaga pengajar dan fasilitasnya pun masih minim.

Pendidikan adalah proses pembelajaran bagi peserta didik untuk dapat mengerti, paham dan membuat manusia lebih kritis dalam berpikir. Pendidikan di desa Bungin-Bungin masih dalam kategori minim karena lembaga pendidikan yang sedikit bahkan hanya sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI), siswa-siswinya pun hanya beberapa saja bahkan dalam satu kelas ada 3-10 siswa-siswi saja dan satu sekolah hanya terdapat 30-an siswa-siswi.