Kamis, 03 Agustus 2017

Pendidikan Sadis!!!


   Dengan demikian, masyarakat di Desa Bungin-Bungin juga belum bisa sedikit banyak mengetahui tentang bahasa nasionalnya sendiri yaitu bahasa indonesia. Lantas jadi apa negara kita jika anak didik saja atau masyrakatnya tidak bisa berbahasa indonesia, karena berbahasa indonesia yang menjadikan suatu komunikasi serta timbal balik untuk dapat mempersatukan keberagaman budaya bahasa.
    Bahkan nama presiden indonesia saja mereka tidak tahu, mau jadi apa negeri ini??. Setidaknya di ruangan lembaga pendidikan mereka terdapat gambar presiden dan wakil presiden negara, tetapi tidak dengan ruangan lembaga pendidikan di Desa Bungin-Bungin, hanya gambar presiden dan wakil presiden yang tidak diperbaharui.
    Anak-anak di Desa Bungin-Bungin mayoritas lebih tertarik untuk sekolah di Pesantren. Jika sudah lulus sekolah dasar (SD) hampir semua anak-anak di desa tersebut melanjutkan sekolah di pesantren atau salaf, karena di desa ini anak-anak sudah dikenalkan pelajaran kitab (agama) sejak usia dini. Sedangkan di sekolah madrasah ibtidaiyah (MI) ada juga anak-anak yang mondok tapi hanya beberapa saja itupun perempuan semua. Di MI tersebut kekurangan tenaga pengajar dan fasilitasnya pun masih minim.

Pendidikan adalah proses pembelajaran bagi peserta didik untuk dapat mengerti, paham dan membuat manusia lebih kritis dalam berpikir. Pendidikan di desa Bungin-Bungin masih dalam kategori minim karena lembaga pendidikan yang sedikit bahkan hanya sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI), siswa-siswinya pun hanya beberapa saja bahkan dalam satu kelas ada 3-10 siswa-siswi saja dan satu sekolah hanya terdapat 30-an siswa-siswi.

0 komentar:

Posting Komentar